Mengembalikan Kejayaan Tembakau Purbalingga


      Karyawan PT GMIT Bubar", kalimat singkat itu menjadi keterangan sebuah foto jadul ber-tone shepia yang ada di kumpulan foto bertajuk 'Photo-Photo Purbalingga Tempo Dulu' yang diunggah situs http://purbalingga-info.blogspot.com. Tak tampak keterangan lokasi dan tahun namun jelas terlihat papan nama bertuliskan PT GMIT.  Pada foto itu terpampang aktivitas karyawan pabrik saat lepas kerja. Ada becak yang mengantar-menanti penumpang, ada yang menggunakan sepeda bahkan ada yang dijemput dengan menggunakan sepeda motor. Untuk ukuran Purbalingga kala itu, PT GMIT merupakan pabrik yang tergolong besar. Pabrik pengolahan tembakau berkualitas ekspor itu mempekerjakan ratusan pekerja. "Saya masih ingat waktu kecil sering melihat karyawan GMIT pulang kerja. Pekerjanya klimis-klimis dan kelihatan lebih sejahtera, beda dengan karyawan pabrik lain yang kelihatan lebih kucel




Produknya merupakan tembakau berkualitas pembungkus cerutu yang diekspor ke Bremen, Jerman. Saat itu, industri tembakau pernah berjaya dan menjadi sandaran hidup warga masyarakat kabupaten di kaki Gunung Slamet itu. Tokoh Masyarakat Purbalingga Tri Daya Kartika menyatakan GMIT merupakan peralihan dari Tobbaco Indonesia Coorporation (TIC) yang kemudian dinasionalisasi setelah era kemerdekaan. "GMIT ini perusahaan yang terkemuka waktu itu, gudangnya saja besar-besar, berjumlah puluhan dan tersebar di berbagai wilayah Purbalingga," katanya. Menurutnya, di Wilayah Kecamatan Padamara dan Kutasari saja ada setidaknya empat gudang tembakau, yaitu di Padamara, Kalitinggar, Karangaren dan Karanggambas.  Gudang tembakau GMIT juga ada di Desa Beji dan Pagutan yang menampung tembakau dari Kecamatan Bojongsari. Lalu, ada gudang tembakau di Desa Kalapacung, Gunung Karang dan Karangduren yang menampung produksi tembakau dari Kecamatan Karangreja dan Bobotsari. Gudang tembakau itu, selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan juga tempat untuk ngomprong daun tembakau. Oleh karena itu, Tri Daya meyakini jika lahan tembakau di Purbalingga saat itu sangat luas. "Mungkin bisa sampai ribuan hektar karena gudangnya besar-besar dan ada dimana-mana," katanya.


Kejayaan tembakau di Purbalingga ternyata tercatat jauh sebelum GMIT berdiri. Hasil penelusuran Ganda Kurniawan, Sejarawan Purbalingga, menyebutkan bahwa sebelum tahun 1900-an sudah ada perkebunan tembakau yang beroperasi di wilayah Purbalingga.  Sebab, dalam buku De Tabaksplantages Op Sumatra, Java en Borneo terbitan Amsterdam tahun 1906 yang ditulis oleh J.H. Lieftinck & Zoon di wilayah Karesidenan Banyumas ada 4 perusahaan tembakau, dua diantaranya ada di wilayah Purbalingga. Pertama ada perusahaan De Erven de wed. J. van Nelle yang pimpin oleh H. Burgmans. Perusahan itu memproduksi tembakau dengan merk Van Nelle dikenal tidak hanya di Indonesia namun dipasarkan hingga ke eropa oleh perusahaan yang berbasis di Rotterdam itu. Burgmans bahkan meninggal dan dimakamkan di Kerkhof Purbalingga. Kedua, perusahaan bernama Kandanggampang Mulder Redeker & Co yang dipimpin oleh Cornelis Johannes.





Komentar